Welcome home....

Assalamualaikum wr.wb
Rekan-rekan pembaca..selamat menikmati suguhan yang insyaallah bermanfaat dunia wal akherat...

"Pembaca yang baik meninggalkan komentar-komentar yang bermutu."

Selasa, 22 Maret 2011

long journey will begin

*****"Dab, piye? Bar ashar jadi ngegame gak? Nada bicara sedikit aku tinggikan mencoba mengalahkan deru motorku dan keramaian lalu lintas di tengah kota Yogjakarta.
"Lha mboh, sek, coba sms onggo! Biasanya juga mereka jam segini dah siap-siap mau ngegame" Balas teman ku dengan mulai sedikit menurukan laju supra birunya.
"yowes, aq bar iki harus ada rapat PH BEM sek di kampus. Paling bisa ngegame bar magrib. piye?".
"Yow, kamu nyusul aja klo gitu setelah rapat."
"Yap, tapi klo udah pada mau berangkat, sms lho. Sapa tau aq wes rampung atau aq titip idupin biling di warnetnya. Males klo harus ngantri. Apa lagi ni malam sabtu. Pasti rame anak-anak yang maen. Ok?"
"Yowes, nung, aq tak balik sek."
"yup, podo wae, put. aq ki yo meh balik sek. Bar kui balik neh nang kampus, rapat je"
*****

Sepenggal percakapan yang berhasil ku ekstrak dari memori hidup ku yang udah bertumpuk-tumpuk tercampur sana sini dan tidak pernah ku berusaha menyusunnya atau memang aq tidak begitu cakap dalam mem-file-kan kisah hidup ku. "Wah, gimana aq bisa menceritakan ke anak cucu ku nanti." Pikirku.

Usiaku baru saja menginjak 22 tahun Februari kemaren. Namun, di usiaku ini alhamdulillah aq telah berhasil menamatkan pendidikan sarjana ku di Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, bahkan sekarang on the way meraih gelar S2. Tak pernah terbayangkan oleh ku untuk menimba ilmu kefarmasian di kota pelajar tersebut. Rencana ku dulu, yah, klo pun paling jauh adalah Bandung. Namun, apa yang bisa kupelajari di sana. "ITB, Institut Teknologi Bandung, ah, teknik nampaknya bukan bidang ku." Walaupun aq mampu meraih nilai 100 matematika dan 98 di IPA UAN SMP, bukan lah jaminan aq mendapatkan hasil yang sama atau paling tidak mendekati di SMA. Tidak, nilai Matematika, fisika, biologi, kimia UAN SMA hanya mampu kuraih di angka 8 dan sekitarnya.:) Dan, kukatakan dengan tegas ke dalam pikiranku untuk tidak mengambil teknik. Yap, ITB bandung kucoret dalam pilihan-pilihan masa depan kuliahku.

Mencoba untuk melihat pilihan lain, jatuh pada psikologi UNPAD. Entah apa yang membawa pikiran ku untuk menetapkan pilihan ku pada bidang keilmuan psikologi. "Wow, cewek psikologi tu cantik-cantik lho, Bud." Ujar salah seorang kakak tingkat ku di SMA yang sudah lebih dulu mencicipi psikologi UNPAD. "Boleh dicoba niy..hahhaha" pikiran nakal mode on. Yap, tak apalah, yang penting masih bisa ada yang diperoleh. hihihihi :genit

Yap. Satu pilihan udah ada walaupun psikologi itu kutargetkan menjadi pilihan kedua. Bukan ingin pilih kasih, tapi aq masing tetep berniat mengambil ilmu science. Ibu ku mencoba menawarkan kedokteran. Waw, suatu pilihan bagus yang bagi kebanyakan anak menjadi impian, ataupun klo tidak menjadi impian setiap orang tua. Iya kan? Namun, tidak bagiku, orang tua ku pun hanya memberikan pilihan bukan paksaan. Ntah kenapa, aq tak pernah bermimpi menjadi seorang dokter. Mungkin karena sedikit dari keluarga ku yang menjadi dokter. Kedua orang tua ku jelas bukan dokter.
Ku ingin mengikuti jejak kedua orang tua ku dimana mereka berkuliah yakni IPB, Institut Pertanian Bogor", tapi ayakku adalah orang no 1 yang gak setuju, atau lebih tepatnya kurang mendukung. Kuberikan pilihan kepada orang tuaku bagaimana klo aq kuliah di tempat kerja kedua orang tua ku. Yap, mereka dosen di salah satu perguruan tinggi negeri di Lampung, UNILA. Kali ini, ketidaksetujuan ayakku akan pilihanku didukung penuh 100% oleh ibu ku. "Well, ok. Kita coba cari-cari pilihan lain." Kata ku. Sambil membolak balikkan buku pedoman mahasiswa UGM, yang aq sendiri pun saat ini lupa darimana ku bisa mendapatkan buku itu. Ataukah, bukan buku pedoman, tapi lebih tepatnya brosur UM-UGM 2005.

"Gimana klo pilih farmasi?" Ibu ku kembali menyodorkan pilihan. "Hmmm.." Jawab ku singkat. Aq lum mengatakan iya, tapi coba menimbang-nimbang pilihan ibu ku. Ntah atas dasar apa aq menimbang, aq pun akhirnya menjawab iya atas usulan ibuku tersebut. Jujur, hingga detik aq menginjakkan kaki pertama kali ke Fakultas Farmasi UGM, aq sama sekali tidak tau tentang dunia farmasi, a.k.a buta. Untungnya ketika wawancara seleksi UM-UGM, ku berhasil menjawab.

"Wah, kamu akselerasi yak?" Tanya salah seorang reviewer ketika tiba giliran ku untuk diwawancara pada seleksi UM-UGM lewat jalur PBS. "Iya Pak." Jawabanku. Bisa ku pastikan sekarang bahwa yang menjadi reviewer pada waktu itu adalah DEKAN FAKULTAS FARMASI UGM didampingi salah seorang dosen. "Wah, ternyata aq adalah orang pertama yang bertatap muka secara langsung dengan dekan-ku." Sadar ku saat ini. :) Dua pertanyaan berhasil dilontarkan dan dijawab dengan sempurna oleh ku. Aq yakin dengan sempurna karena sempat ngintip lembar nilai yang gak sengaja terbuka di depan ku saat wawancara. Sambil mengintip, yap nilai sempurna, klo gak salah 10 gitu..hihihi. Dan, alhamdulillah emang akhirnya keterima deh. Yap, UM-UGM 2005, pilihan pertama farmasi dan pilihan kedua psikologi. Allah menetapkan takdirku di FAKULTAS FARMASI UGM.*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar